Dinar-candy

Beritarokokslot.com, Jakarta Adalah Dinar Candy, perempuan yang belakangan tengah jadi buah bibir publik. Bukan karena foto Dinar Candy yang kadang dianggap terlalu seksi, namun perempuan yang diketahui berprofesi sebagai DJ ini terlibat skandal video tak senonoh.

Sebagaimana diketahui, dalam sebuah video yang beredar di jagat maya, payudara Dinar terlihat disentuh oleh sang manager, Didiet Dada. Tak ingin membiarkan isu ini simpang-siur, kedua belah pihak pun memberi klarifikasi.

Dalam pernyataannya, Dinar Candy menyebut bila perbuatan itu merupakan tindakan tak sengaja. Menyuarakan tanggapan serupa, Didiet juga mengatakan jika peristiwa itu sudah lama terjadi dan pihaknya bingung mengapa video tersebut bisa tersebar sekarang.

Kendati sudah memberi klarifikasi, namun sosok Dinar Candy terlanjur menyedot atensi publik. Identitas perempuan berambut panjang ini tak jarang dipertanyakan. Seperti diketahui, bersama dengan Pamela Safitri, Dinar adalah personel Duo Serigala.

Di samping itu, mereka juga tergabung dalam sebuah project The Bubbles. Sejak rekam gambar beradegan tak senonohnya beredar luas di jagat maya, nama Dinar Candy pun menyeruak sebagai topik hangat perbincangan publik.

Dinar Candy dan protes berbikini yang berbuntut pidana

Penerapan hukum seperti itu disebut bias sebab tindakan serupa menurut Komisioner Komnas Perempuan Mariana Amiruddin mungkin takkan terjadi jika yang melakukan aksi adalah laki-laki.

Lebih jauh, perkara ini menurut Ketua YLBHI Asfinawati menunjukkan sistem hukum di Indonesia masih mendiskriminasi perempuan atau yang dia sebut ‘sangat patriarkal baik dari sudut norma maupun penegakan hukumnya’.

Aksi Dinar Candy, pemengaruh yang juga Disc Jokey (DJ) berbikini sambil menenteng papan protes atas kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat berbuntut jerat pidana.

“Saya stres karena PPKM diperpanjang,” demikian yang ditulis perempuan bernama asli Dinar Miswari tersebut.

Protes itu yang dilakukan pada Rabu (04/08) di jalanan di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Sehari setelahnya atau pada Kamis (05/08) kepolisian mengumumkan penetapan Dinar sebagai tersangka dugaan tindak pidana pornografi. Ia disangkakan melanggar Pasal 36 Undang-undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara dan denda paling banyak Rp5 miliar.

Komisioner Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Mariana Amiruddin menilai penerapan pasal itu tidak tepat karena aksi Dinar dilakukan sebagai bentuk protes.

Itu sebabnya dia mengingatkan aparat untuk objektif dan teliti dalam menilai sebuah kasus.

“Seandainya bukan Dinar Candy yang di situ, atau mungkin seandainya dia adalah seorang laki-laki, saya kira mungkin orang hanya akan melihat isi protesnya soal PPKM,” kata Mariana kepada wartawan Nurika Manan yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Jumat (06/08).

Yang terjadi kemudian alih-alih fokus pada esensi protes, menurut Mariana yang dipermasalahkan justru ketelanjangan Dinar sebagai perempuan. “Persoalannya karena dia menunjukkan tubuhnya, pendapatnya malah tidak diperhatikan, lebih ke penampilannya,” kata dia.

“Sementara ibu-ibu di Bali, atau mama-mama Papua yang bertelanjang dada dan protes kan tidak masalah. Atau berdiri saja gitu di tengah kebun, bertelanjang dada, kan tidak masalah. Jadinya kan bias,” imbuh dia.

Seharusnya masalah pokok yang membuat seorang perempuan melakukan aksi protes tersebut lah yang mestinya jadi fokus.

Dalam kondisi tertekan, menurut Mariana, beberapa perempuan acap kali mengekspresikan keresahan maupun perlawanannya dengan pelbagai cara. Boleh jadi, kata dia, itu pula yang terjadi dalam kasus Dinar Candy.

Aksi protes tersebut ditempuh karena hanya itu cara yang Dinar tahu agar pendapatnya didengar.

“Kalau kita belajar psikologi perempuan, dalam kondisi histeris atau histeria, itu banyak sekali contoh yang kemudian, misalnya ibu-ibu terutama yang membuka baju. Stres,” ucap dia.

“Saya melihat dari awal Dinar itu stres juga, kalau kita cek wawancara dia soal PSBB dan setelahnya PPKM, karena dia kehilangan mata pencaharian kan. Dan karena dia tahunya cuma itu, maka dia melakukan itu,” kata Mariana lagi.

Kalaupun berkeras dipermasalahkan, terlalu berlebihan jika direspons dengan pendekatan pidana.

Apalagi mengingat rekam jejak penggunaan UU Pornografi, menurut Mariana, kerap mendiskriminasi perempuan dan seringkali tak tepat diterapkan.

Ia mengatakan, “memang dari awal UU Pornografi akan cenderung menghukum perempuan, terutama tubuhnya.”

Padahal dalam beberapa kasus, seringkali justru perempuan yang dijerat Undang-undang Pornografi ini adalah korban. Misalnya, dia mencontohkan, pada kasus perdagangan perempuan.

“Ada penari striptis yang disewa banyak orang, waktu itu di Jepara kasusnya. Ternyata mereka juga korban perdagangan orang dan segala macam, tapi mereka dikenakan sebagai pekerja seks,” urai Mariana.

“Harusnya hukum mengerti bahwa posisi perempuan itu subordinat, ada di bawah sistem yang patriarkis. Yaitu apabila dia menunjukkan ketelanjangannya apapun alasannya pasti orang akan menghakimi dia, tanpa orang mau tahu kenapa,” ungkapnya.

4 thoughts on “Terlibat Skandal Video Tak Senonoh, Dinar Candy Bikin Heboh”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *