jarum-jam-kiamat

Jakarta, Rokokslot News – Dunia saat ini sedang diliputi ancaman perang nuklir setelah terjadinya ketegangan antara Rusia dan Amerika Serikat (AS) terkait perang di Ukraina. Hal ini rupanya berpengaruh pada pergerakan jarum ‘jam kiamat’.

Jam Kiamat dibuat oleh para pakar untuk menentukan seberapa dekat umat manusia dengan kehancuran kehidupan. Jarum yang menunjukan waktu tengah malam diartikan sebagai permulaan bencana global.

Pada tanggal 24 Januari, Atomic Scientist, lembaga yang terdiri dari para ahli di bidang risiko nuklir, perubahan iklim, teknologi disruptif, dan bioterorisme, mempercepat waktu menuju tengah malam berdasarkan dugaan adanya ketegangan nuklir. Perubahan ke 90 detik dari 100 detik mewakili bencana global yang paling dekat yang pernah terjadi.

Memindahkan jam 10 detik lebih dekat ke tengah malam “sebagian besar” diakibatkan oleh bahaya perang di Ukraina. Sebelum Januari, jam tetap pada 100 detik hingga tengah malam sejak tahun 2020.

Namun kali ini muncul kembali usulan jarum jam digerakan mundur. Usulan ini diungkapkan oleh fisikawan Rusia, Pavel Podvig, yang menulis dalam Buletin Ilmuwan Atom bahwa jam simbolis yang mengukur ketakutan dan peringatan bencana akan kehancuran di seluruh dunia itu harus dimundurkan karena munculnya oposisi senjata nuklir.

“Sejak hari pertama perang, Rusia tidak merahasiakan ketergantungannya pada senjata nuklir untuk memastikan tidak ada orang yang bisa menyelamatkan Ukraina,” tulis Podvig dalam buletin itu sebagaimana diberitakan Newsweek, Kamis (9/12/2023).

“Negara-negara Barat telah menawarkan bantuan besar-besaran kepada Ukraina, sehingga membuat prospek konfrontasi langsung dengan Rusia menjadi lebih nyata dibandingkan beberapa dekade yang lalu. Jam ini harus mencerminkan perkembangan ini.”

Pada tahun 2011, Rusia dan AS, yang memegang 90% senjata nuklir dunia, menyetujui komitmen 10 tahun yang menyatakan bahwa kedua negara tidak boleh mengerahkan lebih dari 1.550 hulu ledak nuklir strategis. Perjanjian yang dinamakan START tersebut diperpanjang lima tahun lagi pada tahun 2021.

Namun pada Februari lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin menolak perpanjangannya, memicu kekhawatiran akan adanya perang nuklir pasca konflik bersenjata di Ukraina.

Meski begitu, sebagian besar pihak menolak penggunaan senjata nuklir, baik pejabat dunia maupun sipil. Salah satu yang paling keras menentang adalah Perjanjian Pelarangan Senjata Nuklir yang diadakan di Wina.

“Kami khawatir dan kecewa dengan ancaman penggunaan senjata nuklir dan retorika nuklir yang semakin keras,” sebagian isi pernyataan itu. “Kami menekankan bahwa setiap penggunaan atau ancaman penggunaan senjata nuklir merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional, termasuk Piagam PBB.

“Kami dengan tegas mengutuk setiap dan seluruh ancaman nuklir, baik yang tersurat maupun tersirat, dan apapun kondisinya.”

Podvig sendiri menambahkan ambang batas penggunaan senjata nuklir sangatlah tinggi karena faktor terbesar yang merugikannya adalah kesepakatan global bahwa penggunaan senjata nuklir secara integral adalah untuk membunuh orang.

“Untuk memastikan senjata nuklir tidak digunakan lagi, para pemimpin dunia dan masyarakat harus terlebih dahulu mengakui peran konsolidasi, perlawanan universal terhadap ancaman nuklir, mengakui perlawanan ini, dan memastikan perlawanan ini bertahan,” katanya.

“Jam Kiamat berada pada posisi yang tepat untuk melakukan hal tersebut. Dengan menggerakkan jarum jamnya ke belakang saat disetel lagi, meskipun sedikit, pesan ini dapat dikirimkan dengan jelas dan kuat.”

2 thoughts on “Jarum ‘Jam Kiamat’ Mau Digeser, Dunia di Ambang Kehancuran?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *